Kamis, 25 Oktober 2012



                Sebelah Timur desa Kokoleh yang letaknya + 7 km jauhnya dari desa, terdapat sebuah tempat yang bernama Tandeng, disitu kita akan menemui dan melihat dengan jelas adanya peninggalan leluhur kita dan yang masih merupahkan benda-benda purba sebagai warisan peninggalan, dan semuanya merupakan tanda tanya bagi kita yang masih hijau dalam menentukan asal mula benda-benda tersebut sesuai dengan sejarah yang sebenarnya.

                Namun demikian maka tentu saja bagi kita sebagai titisan agung Toar Lumimuut, banyaklah yang telah mendengar dan mengetahui orang tua-tua maupun dalam bentuk nyanyian seperti Maengket atau Mapalus apalagi pada masa penuaian (Pemetikan Padi), maka dalam seluruh kilasan ceritanya adalah mengisahkan tentang seluruh karya dan perjuangan para leluhur. 

                Demikian pula di antara kisah para leluhur Minahasa dengan Mina Esa nya, terdapat pula kisah cerita  seorang leleuhur ialah : Opo Tumindeng dalam ceritanya Lingkan Wene (Putri Padi).

                Sebelum kami menanjak pada ceritanya maka kami menajak para pembaca untuk mengetahui bentuk dan arti dari benda-benda purba seperti tersebut di atas. Adapun benda-benda tersebut terbuat dari pada batu dan dalam bentuk tangga-tangga dimana susunan batu-batu tangga sangat rapi dan teratur.

                Tempat tersebut terdapat pula tiga buah tempat yang sedikit berjauhan dan nama benda-benda tersebut adalah Tandeng artinya tangga yang dapat dipindah-pindahkan dan nama ini pula adalah nama yang diberikan oleh para leluhur.

                Terkisahlah leluhur Tumideng pada jaman hidupnya adalah sebagai seorang manusia yang mendiami bumi Rehe Rehesan dan didampingi kawan-kawannya diantara leluhur Sumanti selain mereka hidup pula seorang leluhur yang berdiam dan menguasai di bawah bumi ialah leluhur Makawalang artinya pengusaha di bawah bumi dan leluhur Lingkan Wene adalah sebagai Putri Padi (Penguasa Padi). Putri kayangan/ Kainawaan.

                Adapun hubungan hidup antara mereka sebagai mahluk Tuhan dan hidup pada alam yang berbeda namun dalam ceritanya bahwa hubungan antara mereka adalah disatukan Tuhan (masa Empung-Empungan) dengan adanya sebuah benda penghubung berbentuk tangga sebagai hubungan langsung antara parahiyangan untuk turun ke bumi.

                Pada suatu hari terpikirlah oleh leluhur Tumideng untuk ingin mengembara ke Khayangan/ Kainawaan, maka berangkatlah ia dengan mengikuti tangga-tangga tersebut (Tandeng) dan setibanya di Khayangan/ Kainawaan alangkah herannya melihat bahwa jalan yang akan dilaluinya itu, beralas benda-benda ajaib yang belum dikenalnya.

                Adapun benda-benda ajaib tersebut berkilau kuning keemasan sehingga menimbulkan keinginan leluhur Tumideng untuk mengetahui benda-benda tersebut, maka melalui itu ia melangkahkan kakinya maju setapak demi setapak mengelilingi tempat itu Tiba-tiba terkejutlah leluhur Tumideng setelah  melihat bahwa di hadapannya berdirilah serang wanita cantik sambil menegurnya: Hai Putra Bumi ketahuilah olehmu bahwa tempat yang dipijakmu adalah tempat terlarang, keluarlah dan kembali engkau ke Bumi dan segera tinggalkan tempat ini, sebelum parahiyangan mengetahui hadirnya seorang manusia Bumi pada tempat terlarang ini, dan aku inilah sebagai penjaganya Lingkang Wene (Putri Padi). Namun karena leluhur Tumideng adalah seorang Pendekar Bumi yang pemberani dan pantang menyerah maka teguran itu tiada dihiraukannya, apalagi setelah melihat dan mengetahui bahwa yang menegurnya itu adalah wanita bermata buta dan tiada dapat melihat sesuatupun.

                Dengan sikap tiada peduli ditinggalkannya wanita itu dan berjalan-jalan sambil memperhatikan benda ajaib yang dilaluinya, tanpa memikirkan segala kemungkinan atau akibat yang terjadi.

                Maka terkisahlah bahwa sementara Leluhur Tumideng berjalan terdengarlah suatu sentakan keras disertai kata-kata ancaman, maka meloncatlah leluhur Tumideng dan dalam keadaan siap menghadapi tantangan itu, tapi alangkah terkejutnya pula setelah melihat bahwa yang menantangnya adalah si wanita cantik alias Lingkan Wene yang disangkanya buta, terjadilah perang tanding antara keduanya.

Bersambung  ke Bagian Kedua

Sumber : Minahasa Tanah Tercinta (Boy E. L. Rondonuwu)

0 comments:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...