Jumat, 01 Februari 2013

Chaonechoan : Tari Maengket
Minahasa : Mengenai Tarian Maengket Kata MAENGKET terdiri dari kata dasar ENGKET yang artinya mengangkat tumit kaki turun naik, dan awalan MA yang merubah kata dasar menjadi kata kerja menari-turun naik. Dengan demikian sebutan klasifikasi jenis MAENGKET :

  1. Maengket "Owey Kamberu" dapat dikatakan menari "Owey Kamberu" 
  2. Maengket "Marambak" dapat dikatakan menari "Marambak", 
  3. Maengket "Lalayaan" dapat dikatakan menari "Lalayaan".
Fungsi MAENGKET dalam upacara adat jaman tempo dulu, adalah sebagai bahagian dari serangkaian upacara petik padi MANEMPO' (Tontemboan), MANGUPU' (Tombulu, Tonsea), MASAMBO (Tondano). Yang terdiri dari Tarian untuk mengundang roh leluhur Dewa-Dewi dan nyanyian memuji SI EMPUNG (Tuhan) disebut SUMEMPUNG dan minta berkat perlindungan pada Dewa-Dewi yang disebut MENGALEI. Oleh karena itu tarian MAENGKET sebenarnya bukan murni tarian, tapi perpaduan dua cabang kesenian yakni seni tari dan seni menyanyi. Ada dua tarian Minahasa yang sudah punah, dimana si penari tidak menyanyi yaitu MANGOLONG tarian upacara kedukaan dan MAHAWALIAN tarian para pemimpin adat dan agama asli TONA'AS dan WALIAN. Dengan demikian tarian MAENGKET termasuk cabang kesenian tradisional Minahasa, yang memiliki "Faktor kesulitan" yang cukup tinggi dalam pelatihannya dan penampilannya, karena harus menghayati gerak tari dan intonasi suara.


Yang dimaksud dengan rangkaian upacara petik padi adalah musim pesta adat yang berlangsung selama sembilan hari, dengan tarian "Maowey Kamberu", tarian "Lalayaan" pada upacara bulan purnama MAHATAMBULELENEN (Tombulu), MASISERAP (Tontemboan). Dan biasanya di ikuti dengan upacara SUMOLO (solo = lampu) pada pemasangan lampu rumah baru untuk pertama kalinya, tarian pada acara ini disebut "Marambak" (rambak = Banting kaki) untuk secara simbolisasi menguji kekuatan rumah. Rumah adat Minahasa jaman tempo dulu disebut "Wale wangko" (rumah besar) yang bentuknya memanjang dihuni oleh tujuh sampai sembilan keluarga. Apabila penduduk sebuah "Wanua" atau "Ro'ong" yang dalam bahasa melayu Manado disebut "Negeri" sudah cukup banyak, maka dibangunlah satu rumah baru untuk keluarga-keluarga baru yang ingin memisahkan diri dari orang tua mereka. Peresmiannya dilakukan setelah panen raya padi yakni setelah bulan purnama raya, urutan-urutan upacara adat telah di tentukan sebelumnya oleh pemimpin negeri, merangkap pemimpin adapt TONA'AS WANGKO. Setelah bintang tiga "Kateluan" terlihat, maka si Tonaas mulai membuat simpul pada seutas tali disebut "Mamules", tiap hari membuat satu simpul pada tali selama sembilan hari kemudian istirahat satu hari.

Chaonechoan : Tari Maengket

Kemudian dilanjutkan lagi tujuh hari berturut-turut lalu istirahat satu hari, selanjutnya lima hari lagi lalu istirahat, dan tiga hari lagi, pada hari berikutnya adalah bulan purnama raya. 9 + 1 + 7 + 1 + 5 + 1 + 3 + 1 = hari ke-28 bulan purnama raya, tujuh hari sebelum bulan purnama dilakukan tarian "Maengket Owey Kamberu" dihalaman batu TUMOTOWA, pada hari ke-28 secara resmi panen raya dimulai, malam harinya adalah bulan purnama raya dilakukan "Maengket Lalaya'an, tujuh hari setelah bulan purnama dilakukan peresmian rumah baru upacara "Sumolo". Karena TONA'AS WANGKO juga memegang jabatan sebagai TONA'AS SAKA (Panglima perang) pemimpin para "Waranei", maka ketika melihat bintang tiga "Kateluan" muncul, maka dia menyuruh anak buahnya "Mamu'is" pergi menangkap tawanan bila ada upacara naik rumah baru. Karena sebelum pemasangan atap rumah baru ada upacara "Pangari'ian" (ari'i = tiang) raja, kurban kepala manusia ditanamkan dibawah tiang raja, inilah yang dimaksud syair "Mangido-ngido-do" pada Maengket Marambak Tonsea.


Pemimpin tarian MAENGKET adalah kaum wanita sebagai "Walian in uma" pemimpin upacara kesuburan pertanian dan kesuburan keturunan, dibantu oleh "Walian Im penguma'an" lelaki dewasa. Pemimpin golongan WALIAN atau golongan agama asli (agama suku) disebut "Walian Mangorai" seorang wanita tua, yang hanya berfungsi sebagai pengawas dan penasehat dalam pelaksanaan upacara-upacara kesuburan. Untuk memulai tarian maka si pemimpin tarian MAENGKET menari melambai-lambaikan saputangan mengundang dewi bumi (Lumimu'ut), dan setelah kesurupan Dewi Bumi, barulah tarian dimulai, oleh karena itu semua penari MAENGKET harus memakai saputangan. Agar supaya para penari tidak kemasukan (kesurupan) roh jahat (Tjasuruan Lewo') ada pembantu TONA'AS WANGKO menemani "Walian in uma" yang disebut "Tona'as in uma" pria dewasa yang memegang tombak symbol Dewa Matahari TO'AR (To'or = Tu'ur = tiang tegak = Tombak). Oleh karena itu di halaman batu "Tumotowak" (Tontembuan) "Panimbe" (Tondano), "Pa'lalesan" (Tombulu), "Pasela" (Tonsea) ditancapkan tiang-tiang bambu berhias disebut "Tino'or" (Tontemboan), "Toto'or" (Tombulu), sewaktu dilakukan tarian Maengket "Owey Kamberu". OWEY termasuk kata keluhan karena lelah fisik dan lelah pikiran yang sama artinya dengan Bahasa Tondano AMBO, rasa lelah yang berada diluar kekuasaan manusia, hingga keluhan membawa rasa nikmat, menikmati rasa lelah karena ada hasil yang menyenangkan dibalik kelelahan itu, misalnya lelah menanam padi akan menghasilkan kesenangan waktu menuai padi.

Karena Minahasa terdiri dari kesatuan beberapa sub ethnic seperti, Tontemboan, Tombulu, Tonsea, Tondano, Tonsawang, Ratahan Ponosakan dan Bantik. Maka syair lagu nyanyian MAENGKET juga memakai dialek bahasa-bahasa sub ethnic Minahasa tersebut, menyebabkan ada beberapa sebutan istilah yang berbeda misalnya MA'OWEY (Tombulu, Tonsea) di Tontemboan disebut MAWINSON, MAKAMBERU di Tombulu disebut MAWAREI DI Amurang-Tontemboan. Tapi semua subethnik Minahasa mengakui bahwa Dewi padi itu bernama LINGKANWENE (liklik = keliling, Wene = padi) yang dikelilingi padi, penguasa produksi padi, suaminya adalah pemimpin semua Dewa-dewi, Maha dewa MUNTU-UNTU. Ada tiga orang leluhur Minahasa yang bergelar MUNTU-UNTU dan istrinya bernama LINGKANWENE, yang pertama kemungkinan hidup abad ke-sembilan, yang kedua hidup abad ke-12, yang ketiga hidup abad 15. MUNTU-UNTU yang terakhir inilah yang di kisahkan dalam syair "maowey kamberu" telah dibabtis oleh Pater Spanyol masuk Kristen-katolik. Umumnya ceritera dewa-dewi padi, MUNTU-UNTU, TAMATULAR, SAMBALEAN, PARENKUAN, TUMIDENG, PANAMBUNAN (dewa padi lading), PALENEWEN (dewa padi sawah) dalam lagu "Maowey Kamberu" berkisah sedih yang melelahkan hati. Tapi produksi beras di Minahasa sangat terkenal di kawasan Indonesia Timur, sehingga mengundang bangsa barat Spanyol menanam padi sawah di Motoling Minahasa Selatan dan baru berakhir tahun 1644 selama satu abad. Yang bergelar MUNTU-UNTU yang dibabtis pater Spanyol sudah pasti LOLONG LASUT karena dotu inilah yang memberi ijin Spanyol mendirikan kantor dagang "Loji"di "Menango labo" (pelabuhan Wenang) sekarang kota Manado.

Tangga nada lagu MAENGKET dalam upacara adat disebut Penthatonis Owey (lima not) ; la (6), sol (5), mi (3), re (2), do (1), dan Penthatonis ROYOR (lima not) ; si (7), la (6), sol (5), mi (3), re (2).
Chaonechoan : Tari Maengket

Setelah tahun 1900 tarian MAENGKET tidak lagi menjadi bahagian dari upacara adat, karena upacara-upacara adapt di Minahasa yang disebut "Posan" tidak lagi dilakukan orang Minahasa. Tarian MAENGKET kemudian menjadi salah satu cabang kesenian "Seni Pertunjukkan" terutama sekali pada acara "Kuda Baan" (Balapan kuda) di Sario-Manado, Walian-Tomohon, Kawangkoan Tonsea, Kawangkoan Tontemboan, Tasuka-Kakas, kelompok MAENGKET saling bertanding memperebutkan bendera merah putih. Tidak adalagi "Kesurupan" dalam menari MAENGKET semua patokan ke-indahan penampilan lomba ditentukan berdasarkan teori hukum-hukum seni musik dan seni tari dengan menggunakan dasar "Estetika" seni tradisi. Sekitar tahun 1950-an setelah Hindia Belanda angkat kaki dari Minahasa, lahirlah jenis MAENGKET "Imbasan" yang secara umum syair utamanya mengenai perjuangan kemerdekaan dan falsafah Negara, yang mengandung muatan misi agama Kristen disebut "Tari Jajar". Aturan dan ketentuan tarian MAENGKET menjadi longgar dan kehilangan pegangan yang disebut "Pakem" dalam ilmu teori tarian jawa. Oleh karena itu banyak pakar MAENGKET di Minahasa kemudian meneliti lagi aturan-aturan Maengket jaman sebelum tahun 1900, yang mungkin dapat di sesuaikan dengan MAENGKET jaman sekarang.

Yang tidak dapat dirubah lagi adalah bahwa tangga nada MAENGKET jaman sekarang adalah "Diatonis"; do (1), 2 (re), mi (3), fa (4), sol (5), la (6), si (7), 1, satu oktaf. Pemimpin tarian MAENGKET tidak dapat lagi dinamakan "Walian in Uma" (wanita) atau "Walian im Penguma'an" (pria) tapi disebut KAPEL.

Tapi pengaruh fungsi MAENGKET sebagai upacara adat jaman tempo dulu, belum sama sekali menghilang di Minahasa hingga sekarang ini. Yakni muatan Supranatural yang dalam bahasa Belanda disebut "Mokus Pokus" yang prakteknya masih terasa terutama dalam acara pertandingan MAENGKET memperebutkan kejuaraan.

Tapi masalah diluar teori ini, hanya sekedar untuk diketahui dan memang tidak dapat dibahas sebagai pengetahuan ilmu seni, karena terdapat secara umum dalam dunia kesenian tradisional diseluruh nusantara. Ciri has suara penyanyi MAENGKET dengan nada keras dan melengking yang disebut "Suara lima" tidak termasuk Supranatural, walaupun jaman tempo dulu penyanyi MAENGKET mengarahkan suaranya ke gunung-gunung tinggi tempat bersemayam Dewa-dewi. Anggap saja hadirin dan para penonton itu Dewa-dewi, karena nama-nama para leluhur dewa-dewi itu masih digunakan orang Minahasa hingga sekarang ini, seperti ; TULAR (Tamatular), TILAAR (Tumilaar), MUNTU-UNTU, MAMOTO', PARENGKUAN, PANAMBUNAN, PALENEWEN, dan sebagainya.

Chaonechoan : Tari Maengket

Sumber : www.maengket.com / www.mamahit.com

0 comments:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...