Selasa, 16 April 2013




Letnan F.Yanomura (kanan) dan Letnan F.Katagiri.*)
Kisah Kekejaman Tentara Jepang di Wilayah Manado - Di tengah malam awal bulan Agustus 1945, Sersan Tomyoshi Okada menggiring tahanannya dari sel ke garasi dimana sebuah lobang kuburan telah digali di lantainya. Algojo dari Kempetai(polisi militer) ini lalu membunuh kedua penerbang Sekutu berkebangsaan Australia satu-persatu. Korban pertama dibius dengan kloroform kemudian dikubur hidup-hidup. Korban kedua dibius pula dengan kloroform, tapi karena tidak kehilangan kesadaran, lalu dicekiknya dengan sepotong tali baru dikuburkan. 
Demikian pengakuan Okada ketika diadili di Pengadilan Kejahatan Perang Dunia II di Morotai Maluku. Pembunuhan dua penerbang Australia di Tomohon yang selamat dari kecelakaan pesawat bulan sebelumnya itu mendapat liputan luas media Australia di bulan Februari 1946 yang menggambarkannya sebagai salahsatu kekejaman paling mengerikan di Pasifik.


Lain lagi pengakuan Letnan Fumiwo Yanomura (pers Australia menulis namanya bervariasi Yonomura, Junomura atau Yamamura). Perwira angkatan laut Jepang berusia 28 tahun (di tahun 1946) itu mengungkapkan cara pembunuhan dua penerbang Australia yang berlangsung di Sario Manado tanggal 19 Juni 1945. Penerbang dari kesatuan Royal Australian Air Force (RAAF) dan Royal Australian Navy (RAN, angkatan laut Australia) ditutup mata dan diikat tali pada kayu berbentuk piramid bersama empat korban lain. Keduanya ditusuk menggunakan bayonet oleh algojo, lalu ditebas dengan samurai baru dibuang dalam kuburan yang sudah disiapkan. Empat korban lain, dua orang Belanda dan dua Indonesia (Manado) dipaksa berlutut di samping kubur dan dipenggal kepala, baru dikuburkan bersama-sama. 
Peti korban penerbang Australia yang digali kembali.*)
Selang tahun 1944-1945 Australia mengklaim setidaknya ada sembilan anggota RAAF yang dieksekusi di Sulawesi Utara. Tiga penerbang yang melakukan pendaratan darurat di Kepulauan Talaud saat terbang dari Morotai ke Kepulauan Numfoor dieksekusi di Beo bulan Februari 1945. Tiga penerbang lain disebut dieksekusi akhir Februari 1945 di Tomohon. Ketiga penerbang tersebut dibawa dengan terikat di bukit kebun kopi tempat pesawat mereka jatuh lalu dibunuh dengan samurai. Kubur mereka digali sebelum Jepang menyerah dan dimakamkan kembali di pemakaman Jepang di dekatnya.

Eksekusi Letnan Satu Johannes Adrianus de Jong  Selasa malam tanggal 25 Agustus 1942 di lapangan Sario Manado bersama-sama Letnan Satu Willem Frederik Johan Everhardus van Daalen digambarkan terinci Jimmy Andre Legoh dalam naskah bukunya. Keduanya berseragam lengkap dan de Jong menolak ditutup matanya ketika ditembak mati. Kepala dari perwira muda yang melakukan perlawanan heroik di Poso itu ternyata masih dipenggal, lalu dibawa ke Tondano.

‘’Sekitar pukul sembilan pagi itu, seluruh murid sekolah rakyat dan siswa sekolah menengah, para guru serta pemuka masyarakat di kota Tondano, diperintahkan oleh penguasa Jepang untuk berkumpul di tanah lapang Walterplein di Tondano (kini lapangan Dr.Sam Ratulangi). Tanah lapang ini pada bagian barat berhadapan dengan bangunan Loji, bekas tempat kediaman para kepala walak, mayoor, hukum besar di zaman sebelum Perang Dunia II, sedangkan pada bagian timur berhadapan dengan gedung Sekolah MULO Tondano. Pada masa pendudukan Jepang, tempat ini digunakan sebagai markas (Hombo)  tentara Jepang Distrik Toulour,’’ kisah Jimmy Legoh.

Menjelang tengah hari, dua mobil tentara Jepang muncul dari arah kota Tomohon dan langsung memasuki halaman markas tentara Jepang di gedung Loji. Tidak lama, beberapa opsir tamu serta para pembantu mereka dan komandan pasukan korps marinir distrik Toulour beserta stafnya berjalan menuju tanah lapang Walterplein, sambil mengarak sebuah ‘kepala manusia’ yang ditusuk pada bagian lehernya dengan sepotong bambu. Sebuah ‘pertunjukan’ yang dramatis sekaligus sensasional, dan sama sekali tidak manusiawi, karena sangat mengerikan bagi siapa pun yang ikut menyaksikannya.

Seorang opsir tolk (penerjemah) Jepang bernama Mori San yang mahir berbahasa Indonesia dan Belanda, menjelaskan kepada massa rakyat yang hadir di tanah lapang itu, bahwa apa yang mereka saksikan tiada lain adalah ‘kepala terpenggal’ Letnan de Jong yang memberontak terhadap pemerintah Jepang di Kolonodale dan Poso, Sulawesi Tengah. Sebenarnya yang harus membawa kepala Letnan de Jong itu adalah Sho Taicho (sebutan komandan Hombo) Kapten Marinir (Hidemaru) Maeda, namun opsir ini telah gugur dalam pertempuran. Jadi, acara mempertontonkan kepala Letnan de Jong  ini adalah sebagai bukti untuk memenuhi janji dari Kapten marinir Maeda kepada masyarakat di Tondano beberapa waktu yang lalu. Mendengar komentar dari tolk Mori San serta menyaksikan adegan yang sadistis itu, ada beberapa wanita yang jatuh pingsan, sedangkan kebanyakan dari mereka yang hadir, terlihat wajah-wajah yang diliputi rasa ngeri merinding.
Johannes A. de Jong.*)
Pada hari itu juga, kepala Letnan de Jong dimakamkan di tepi sungai Tondano pada bagian tengah tanah lapang Walterplein. Lokasi itu tidak jauh dari sebuah tugu peringatan untuk memperingati kedatangan pasukan pendarat korps marinir tentara Jepang pada tanggal 12 Januari 1942 di kota Tondano dari dua arah, yaitu dari front Barat jurusan Manado-Tomohon-Tondano dan dari front Timur jurusan Kema-Airmadidi-Tondano, yang di antaranya pernah dikomandoi oleh Kapten Maeda. Berdampingan dengan tugu peringatan aksi kampanye pendaratan itu, juga terdapat tugu peringatan gugurnya Kapten Maeda dalam front pertempuran di Topaku Sulawesi Tengah pada awal bulan Juni 1942, demikian tulis Jimmy Andre Legoh seperti dipublikasikan Marsekal Pertama Purnawirawan Johannes Lambertus Mundung. Oleh keperwiraannya, kelak Letnan de Jong dianugerahi medali Militaire Willems Orde (MWO) kelas empat, sementara Letnan van Daalen menerima Bronzen Kruis (BK).

Keberanian luar biasa juga ditunjukkan Frans Inaray, serdadu Ekl.Inf.KNIL dari kesatuan Company A Reserve Korps dibawah pimpinan Letnan Satu A.O.Radema pada tanggal 11 Januari 1942. Menjadi tandem kesatuannya yang mundur dari Airmadidi, ia bersama-sama Sersan Rumambi dan Prajurit Putong menghadapi serangan gencar pasukan Jepang yang muncul dari Kema. Ketiganya terus menembak sampai pillbox pertahanan mereka dihancurkan salahsatu tank Jepang. Konon masih dalam keadaan hidup, Inaray dieksekusi saat itu juga. Untuk keberaniannya, Inaray secara anumerta menerima tanda jasa Bronzen Leeuw. Serdadu Toemoedi dan Tauran juga bertempur secara heroik menghadapi serbuan bergelombang pasukan Jepang di Kakas-Langowan. Mereka menembakkan senapan mesinnya untuk memberikan kesempatan pasukannya melarikan diri. Dengan terluka keduanya berhasil meloloskan diri ke Kakas, namun kemudian tertangkap Jepang yang langsung mengeksekusi Toemoedi. 
Sketsa Kamp Teling Manado.*)
Appel, sketsa di kamp Louwerierschool Matani Tomohon.*)
Selama berkuasa, Jepang menahan ratusan tahanan perang (POW) asal Belanda, Eropa lainnya dan paling banyak Indonesia. Kamp konsentrasi terbesar adalah Teling yang terbagi dua bagian. Kamp Teling (Teling Hitam) untuk tahanan perang Eropa dan Indonesia, dan Barak Militer Teling (Teling Putih) berisi tahanan sipil lalu bercampur dengan POW. Kedua kamp Teling yang belakangan dipimpin Kapten Saiki menampung hampir 1.000 tahanan. Saat diambil alih oleh Sekutu ada 300 POW Belanda dan 400 Indonesia terdiri orang Manado dan Sangihe. Sedangkan kamp Barak Militer Teling di bulan November 1943 berisi 200  tahanan sipil serta POW Belanda, Manado, Ambon dan Jawa. Tahanan wanita berkebangsaan Belanda dan orang Eropa lainnya ditahan di kamp Louwerierschool Kaaten Matani Tomohon serta di Airmadidi termasuk anak-anak dibawah komandan Yamada. 
Kapten Saiki mendemonstrasikan teknik penyiksaan di kamp Teling.*)
Para tahanan di kamp-kamp tersebut, terutama di kamp Teling mengalami berbagai macam penderitaan selama ditahan. Mereka harus bekerja paksa, sementara tahanan yang dianggap berbahaya disiksa dengan teknik-teknik sadistis, yang banyak kali berakhir dengan eksekusi mati di lapangan Sario, bahkan di areal kamp Teling sendiri. Eksekusi hukuman mati awalnya selalu dengan ditembak mati, namun kemudian untuk menghemat amunisi, seperti diungkapkan Letnan Yanomura, dilakukan menggunakan samurai, bayonet dan tombak.

Kekejaman serdadu Jepang di kamp Teling bahkan tidak berhenti setelah pengumuman perintah kapitulasi dari Kaisar Hirohito tanggal 15 Agustus 1945. Justru sehari setelah menyerahnya Jepang, di lapangan Sario mereka memancung kepala Sersan Mayor Henri Johan Kneefel, Sersan Mayor Philip Herman Gerard Blaset, telefonis Jan Dengah dan pensiunan Sersan Alfrits Karauwan. Jimmy Legoh menambahkan Furir Jan Ratumbanua dieksekusi saat itu pula.

Jumlah korban eksekusi tentara pendudukan Jepang di bekas Keresidenan Manado, baik tahanan perang mau pun warga sipil orang Manado, Satal, Jawa, Belanda dan Eropa lainnya tidak terdatakan lengkap. Tapi, diperkirakan jumlahnya mencapai ratusan orang. Selain kamp interniran, penjara baik milik Kempetai (polisi militer) dan toketai (polisi angkatan laut) bukan hanya ada di Manado, tapi tersebar di setiap ibukota distrik dan kota besar lain di Sulawesi Utara, Gorontalo dan juga Sulawesi Tengah yang di masa itu administrasi pemerintahannya berpusat di Manado. Tempat-tempat eksekusi lokal tersebar di mana-mana, bahkan di satu kota bisa ada beberapa tempat pembunuhan.

Ketika Belanda berkuasa kembali, di tahun 1946 semua yang dieksekusi Jepang di kota Manado dimakamkan ulang di dekat tempat eksekusi Sario. Baru kemudian dipindahkan ke taman makam pahlawan Belanda di Menteng Pulo Jakarta.

Arsip Belanda mendatakan setidaknya 48 nama korban eksekusi Jepang di wilayah Manado dan sekitarnya. Namun data korbannya belum lengkap, sebab sekedar dari kalangan KNIL meski ada seorang tokoh masyarakat Tionghoa Manado. Masih banyak lagi nama-nama yang belum terdatakan, baik dari kalangan militer mau pun warga sipil. Berikut nama-nama korban eksekusi tersebut yang dikutip dari Gezocht foto’s van de omgekomen Knil militairen in Java, dengan kelahiran, tempat dan waktu eksekusi serta penghargaan yang diterima dari pemerintah Belanda. 
  
1. Philip Herman Gerard Blaset, lahir Bulukumba 24-12-1906. SMA.KNIL, Sario-Manado 16-08-1945.
2. Frits Bolung, Mlt.Sld.KNIL, Tonsealama 26-04-1942.

3. Karundung Bolung,  Manado 20-03-1942.
4. Gerrit Bottinga, Leeuwarden 22-06-1908. SMA.Inf. KNIL. Manado 25-01-1942.

5. Charles Hendrik Couzijn, Batavia 02-10-1897. Stadw. Sgt. KNIL, Manado 25-01-1942.
6. Willem Frederik Johan Everhardus van Daalen, Batavia 06-09-1914, Elt.Inf. KNIL, Sario Manado, 25 Agustus 1942. Bronzen Kruis. 7. Jan Dengah, Mentok 17-10-1914, Hfd.Telefonist ver. Corps KNIL (/), Sario Manado 16 Agustus 1945.
8. Djareh, KNIL-militair, Manado 20-03-1942.
9. A.Dondokambij,  Menadonees March. Ekl., 13-10-1945.
10.Herman Elias, Manado 18-03-1896, Sgt.Tkl. KNIL, Manado 20 Maret 1942.
11. Eng Tjoan Lie, Tahuna 02-03-1902, Mlt.Sld.KNIL, Tomohon 12 Januari 1942.
12. Anton Gerungan, Mlt.Sld.KNIL, Tonsea Lama 26-04-1942.
13. Frans Inaray, Menadonees Sld. Ekl.Inf.KNIL, Airmadidi 11-01-1942. Bronzen Kruis.
14. Izaak Inaray, Kakas 27-08-1894, Menadonees Sgt.KNIL, Manado 04-02-1942.Bronzen Kruis.
15.Johannes Adrianus de Jong, Rotterdam 17-07-1914, Elt.Inf.KNIL, Sario Manado 25-08-1942. MWO (Militaire Willems Orde) 4e Kl.
16. Adam Kalalo, Sawangan 17-06-1889, Gep.Sgt.KNIL, Manado 20-03-1942.
17. NathaniĆ«l Kalengkongan, Kakas 1896, Sld.Ekl.Inf.KNIL, Manado 4 Februari 1942.
18. Kamean, Menadonees Sld.KNIL, Juli 1945.
19. Alfrits Karauwan, Kaweng Kakas 01-07-1891, Gep.Menadonees Sgt.Ekl.Res.Korps KNIL, Sario Manado 16-08-1945.
20. Jacob Kawuwung, Kembes 1904, Inf.Ekl.Res.Korps KNIL, Manado 20 Maret 1942.
21. Jan Herman Kersten, Groesbeek 12-05-1910, SMI.Inf.KNIL, Manado 25 Januari 1945.
22. Kiohlor, Militair, Manado 20 Maret 1942.
23. Henri Johan Kneefel, Ternate 13-06-1907, SMA.KNIL, Sario Manado 16-08-1945 om01.45 uur onthoofd.
24. Wijtze Kramer, Achterkarspelen 26-12-1889, Gep.Militair KNIL, Kamp Teling 05-04-1945.
25. Piet Jan Lang, Manado 14-05-1905, Milt.Sld.KNIL, Sario Manado 02-07-1942.
26. Dirk Cornelis Lap, Texel 07-01-1902, Stdw.KNIL, Manado 11 Januari 1942.
27. Alexander de Leeuw, Manado 13-04-1901, Mil.Sld.Ekl.KNIL, Gunung Wenang Manado 20 Maret 1942.
28. Lie Goan Oan, 26-07-1894, Kapitein Der Chinezen, Manado 13 Februari 1942.
29. Tobias Lucas, Lesa Tahoelandang 27-10-1911, Menadonees Fus.KNIL, Tomohon 11-01-1942.
30. Joesoef Mait, Tomohon 25-11-1881, Gep.Sgt.Ekl.KNIL, Manado 13-02-1942.
31. Leendert Philips Mongdong Mait, Rurukan 07-04-1904, Gep.Staf Schrijver, Telete 19-02-1942.
32. R.E.Mandagi, lahir 24-07-1908, Sld.KNIL, Gorontalo 06-08-1945.
33. Simon Mandagi, Manado 30-03-1891, Gep.Brig.KNIL, Talawaan 28-12-1941.
34. Joseph Mawa, Romoon (Rumoong) Bawah Amurang 20-06-1895, Sdl.Ekl.Inf.KNIL, Amurang 11-01-1942.
35. Lucas Manoppo, Tombatu 06-11-1914, Rtgfst.KM., Sario Manado 19-06-1945.
36.Johan MeliĆ«zer, Ternate 06-08-1896, Sergeant KNIL, Langowan 00-04-1942.
37.Johannis Pangemanan, Talete 16-03-1910, Cfr.D.V.O.KNIL, Talete 19  Februari 1942.
38.Jusuf Pangemanan, Manembo 1895, Sld.Ekl.Inf.KNIL, Wawonasa 22-10-1946.
39.Aloysius Rompas, Kakas 11-10-1896, Sgt.KNIL, Manado 04-02-1942.
40.Semuel Sambuaga, Banjoebiro 16-04-1898, Inf.Ekl.KNIL, Manado 20-03-1942.
41.Johannes Levinus Samola, Makassar 27-04-1900, Sgt.Adm.Res.Korps KNIL, Manado 20-03-1942.
42. Carel Henri Smith, Manado 23-11-1896, Lds.Sld.Knil, Manado 15-03-1944.
43. Johan Smith, Kema 02-02-1886, Gep.Brig.KNIL, Sawangan 30-03-1945.
44. Sumolang alias Dengah, Militair, Manado 20-03-1942.
45. Noch Talibongso, Kembes 10-02-1890, March.Ekl.Kn., Manado 20-03-1942.
46. Henri Albert Tronchet, Sarongsong Tomohon 01-05-1909, Gunung Wenang Manado 20-03-1942.
47. Arnoldus Petrus Johannes van der Veen, Batavia 20-03-1919, Sgt.Inf.KNIL, Kolonodale 12-08-1942. Bronzen Kruis.
48. Bernard Vischer, Papar 23-10-1897, Sgt.KNIL, Totolan-Langoan 23-01-1942.

Sumber : Korban-Korban Kekejaman Jepang di Manado

0 comments:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...