Senin, 22 April 2013



Kisah Perlawanan Pattimura Tahun 1817 - Berdasarkan Konvensi London (181) Kepulauan Maluku termausk salah satu wilayah kekuasaan Inggris yang harus diserahkan kepada Belanda. Setelah dilakukan penyerahan, Pemerintah Belanda segera menunjuk Van Middelkoop sebagai Gubernur di Kepulauan Maluku. Kembalinya Belanda ke Maluku telah mendatangkan kemarahan rakyat. hal ini disebabkan oleh hal berikut :


  1. Belanda diduga akan membebani rakyat dengan berbagai kewajiban yang meberatkan seperti dimasa kekuasaan VOC.
  2. Belanda mungkin akan mempraktikkan kembali monopoli perdagangan.

Sebagai awal ungkapan kemarahan, rakyat serentak menyampaikan protes di bawah pimpinan Thomas Matulessy. Mereka menyerahkan daftar keluhan rakyat kepada Belanda yang ditandatangani oleh 21 Penguasa dari daerah Saparua dan Nusa Laut. Belanda ternytaa tidak menanggapi suara protes rakyat. oleh karena itu, rakyat Saparua dan Nusa Laut berniat melakukan gerakan perlawanan terhadap Belanda yang kemudian didukung oleh rakyat di Honimoa, Haruku, Ambonia, Seram, dan daerah lainnya.

Pada sebuah pertemuan yang berlangsung 9 Mei 1817 rakyat Maluku di Saparua mengangkat Thomas Matulessy seabgai pimpinan gerakan perlawanan rakyat dengan gelar Pattimura. Ia dinilai memiliki kecakapan di bidang kepemimpinan dan militer. Pada saat Inggris berkuasa di Malku, ia memasuki dinas militer dengan pangkat terakhir mayor.

Pada pertemuan berikutnya, para pejuang Maluki bertekad untuk merebut Benteng Duurstede dan mengusir semua penghuninya. Pada 15 Mei 1817 aksi perlawanan terhadap pemerintah Hindia Belanda dimulai. mulanya mereka merampas perahu-perahu pos yang berada di Pelabuhan Porto. Setelah itu, mreka mulai menyerang benteng. Banyak serdadu Belanda yang ditangkap dan dibunuh, termasuk Residen Porto, van den Berg. Saat itu juga benteng Duurstede jatuh ke tangna rakyat Maluku.

Gubernur van Middelkoop terkejut mendengar kerjadian itu. Ia segera mengirim pasukan dari Ambon di bawah pimpinan Mayor Beetjes. Pasukan ini didaratkan di Saparua pada 20 Mei 1817. Akan tetapi, begitu mendarat, rakyat Sparua menyambutnya dengna serentetan tembakan. Dengan termaksa pasukan Beetjes memutar haluan dan membelokkannya ke sebuah tikungan teluk di sebelah kiri benteng. Di tempat ini, lagi-lagi Paskan Beetjes kembali disambut serangan gencar. Pasukan Beetjes menjadi kacau balau, sebaliknya rakyat maluku semakin bersemangat. Belanda berusaha untuk mundur, tetapi pasukan Pattimura terus mengejarnya. Di dalam pertempuran ini, Mayor Beetjes tewas.

Sebagai embalasan atas kekalahannya, Belanda segera menempatkan kapal-kapal perangnya di perairan Saparua. Serangan segera dilancarkan dengna menembakkan meriam ke arah Duurstede secara terus menerus. Pada 2 Agustus 1817 BElanda berhasil menduduki Benteng Duurstede. Namun, mereka gagal menangkap Pattimura. Oleh karena itu, Belanda segera melancarkan politik adu domba.

Belanda mengumumkan kepada khalayak, hadia sebesar 1.000 Gulden akan diberikan bagi siapa yang bisa menginformasikan keberadaan Pattimura. Ternyata jerat Belanda mengenai sasaran. Raja Boi memberi tahu tempat persembunyian Pattimura. Belanda kemudian megerahkan pasukan secara besar-besaran untuk menangkap Pattimura di Bukit Boi, Pada 16 Desember 1817 Pattimura dijatuhi hukuman gantung di Benteng Nieuw Victoriadi kota Ambon. Penangkapan Patimura telah mengakhiri perjuangan rakyat maluku.

Sumber :
Buku Yudistira -  Kronik Sejarah untuk SMP Kelas II

0 comments:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...