Rabu, 17 April 2013

Ngara Lamo, gerbang Istana Sultan Ternate di tahun 1930-an
Kisah Perlawanan Rakyat Ternate Melawan PortugisBangsa portugis pertama kali tiba di Maluku, yaitu di Pulau Banda pada thaun 1512. Di Banda, mereka membeli pala, cengkeh, dan fuli yang ditukar dengan bahan pakaian dari India. Setelah selesai melakukan perdagangan di Banda, kapal-kapal Portugis sampa di Hitu dan Ternate. Bangsa Portugis diterima penduduk Ternate dengan baik karena dianggap akan memajukan hubungan perdagangan di antara kedua belah pihak. Bangsa Portugis bahkan diberi kesempatan untuk mendirikan benteng yang ditujukan melindungi persekutuan Tidore – Spanyol. Kesempatan itu tidak disia-siakan dengan cara membangun Benteng Saint John di Ternate pada tahun 1522.


Bangsa Portigis ternyata tidak sekedar mendirikan ebnteng, merekapun berhasil mengajukan keinginan untuk memonopoli perdangan rempah-rempah yang dituangkan dalam suatu perjanjian. Seja adanya perjanjian tersebut, rakyat Ternate merasa dirugikan karena harus menjual rempah-rempah dengan harga sangat rendah kepada Portugis. Bangsa Portugis yang baru dikenal sebagai sahabat kemudian berubah menjadi pemeras. Olehkarena itu, rakyat Ternate serentak menyatakan permusuhannya terhadap bangsa Portugis.

Pada tahun 1533 rakyat Ternate membakar benteng milik Portugis di bawah pimpinan Dajalo. Portugis segera mengirim bala bantuan dari Malaka di bawah pimpinan Antonio Galvao pada tahun 1536. Rakyat Ternate dan daerah-daerah lain di Maluku kembali berjuang mempertahankan wilayahnya. Pada akhir peperangan, Antonio Galvao berhasil memaksakan perdamaian dengan Rakyat Maluku sehingga Portugis masih dapat mempertahankan kekuasaan di wilayah ini.

Sultan Baabullah

Untuk beberapa saat Portugis masih dapat memonopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku. Hal ini diperkuat dengna perjanjian yang dibuat tahun 1570 antara Gubernur Lopez de Mesquita dan Raja Ternate Sulatan Hairun. Namun, tidak berapa lama setelah perjanjian itu dibuat, Sultan Hairun dibunuh oleh suruhan Lopez de Mesquita. Kejadian ini menyulut kemarahan Sultan Baabullah, putra Sultan Hairun.

Peperangan rakyat Ternate melawan Portugsi segera berkobar. Selama hampir tujuh tahun Portugis terkurung di dalam benteng-bentengnya. Satu demi satu benteng-benteng itu dapat dierbut Rakyat Ternate. Pada tahun 1577 rakyat Ternate dapat mengusur Portugis dari wilayahnya.

Sultan Baabullah tidak memerintahkan membunuh bangsa Portugis ketika mereka dalam keadaan tidak berdaya. Hal ini mencerminkan sikap kesatria seorang pejuang yang membela tanah air dan bangsa. Setiap manusia berkewajiban untuk menentang praktik-praktik ketidakadilan sebagai perwujudan rasa cinta terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

0 comments:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...